Translate

Senin, 18 November 2019

PENGGUNAAN BAHASA YANG KASAR SEBAGAI SUATU FENOMENA SOSIAL BUDAYA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Hasil gambar untuk berbahasa kasar

disusun oleh : 
Nama : Alvin Sandyka Bramasta
Prodi : Pendidikan Sosiologi
Kelas : A 2018
Universitas Negeri Yogyakarta

   Bahasa adalah salah satu media yang digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain. Proses penggunaan bahasa tidak akan lepas dari manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Bahasa digunakan dalam tiap kehidupan untuk mempermudah proses berkomunikasi. Manusia dalam kebiasaannya mengucapkan kata-kata yang mereka dapatkan dari lingkungan mereka. Hal ini biasa disebut dengan pemerolehan bahasa.
   Hal ini berarti menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa tidak ada guru secara resmi melainkan manusia(khususnya anak-anak) meniru secara alami yang dikatakan oleh orang tuanya dan penerapan bahasa yang ditentukan oleh norma di lingkungan tempat dia tinggal yang bisa jadi termasuk ke dalam sosiokultural daerah tempat tinggalnya. Indonesia juga sebagai negara yang mempunyai sosiokultural yang sangat beraneka ragam didalamnya yang terdapat perbedaan dan keunikan di setiap daerahnya. Penggunaan bahasa yang dinilai santun ini sangat berkaitan erat dengan lingkungan dimana seseorang tinggal, karena bahasa yang digunakan dapat dinilai santun atau tidaknya tergantung pada norma yang dianut di lingkungan tempat ia tinggal.
   Komunikasi bisa dikatakan harmonis apabila penutur dan lawan bicaranya tetap menjaga bahasa yang diucap dan tidak didasari dengan saling mempermalukan serta menghina kelemahan lawan bicara. Sebaiknya komunikasi ini dilakukakan dengan saling menghargai dan menghormati lawan bicara. Komunikasi yang disampaikan dapat dikatakan santun itu dinilai dari kebiasaan berbahasa yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
   Belakangan ini banyak remaja maupun anak-anak yang masih sekolah di Indonesia ditemui sering menggunakan bahasa kasar di lingkungan teman sebayanya. Permulaan pemerolehan bahasa kasar yang digunakan para pelajar untuk berkomunikasi bisa dengan beberapa faktor: pola asuh, dan lingkungan manusia itu bergaul. Penerapan pola asuh oleh orang tua terhadap anak dengan bahasa yang kasar maka akan mudah anak itu untuk kemudian meniru bahasa tersebut sehingga dapat terbiasa untuk digunakan berkomunikasi dengan teman sebayanya maupun orang lain di sekitarnya. Pola pengasuhan ini juga mereka terapkan seperti yang pernah diterima waktu mereka dididik di lingkungan keluarga oleh orang tuanya, lingkungan sekolah oleh guru di sekolahnya, maupun lingkungan masyarakat oleh orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.


Hasil gambar untuk berbahasa kasar


Penggunaan Bahasa Kasar menurut Konsep Dasar Sosiologi Antropologi Pendidikan
   Berikut ini ialah perihal penggunaan bahasa kasar jika dikaji dalam konsep-konsep dasar Sosiologi Antropologi Pendidikan:
1. Kebudayaan
   Penggunaan bahasa kasar yang kerap dilakukan oleh remaja tidak sesuai dengan adat kebudayaan Indonesia yang lebih menjunjung budaya ketimuran. Oleh karena itu kita harus melestarikan untuk berbahasa yang baik dan santun agar menghindari hambatan dalam berinteraksi dalam orang lain.
2. Tradisi
   Penggunaan bahasa kasar yang dilakukan oleh remaja haruslah segera dicegah, salah satunya dengan pembiasaan berbahasa yang baik dan santun dalam penanaman pendidikan karakter dan sesuai dengan yang diajarkan dalam kurikulum mata pelajaran bahasa di lingkungan pendidikan. Kita harus membiasakan berbahasa baik dan santun pada kehidupan sehari-hari agar kemudian menjadi sebuah tradisi.
3. Pengetahuan
   Pengetahuan akan cara berbahasa yang baik dan benar sangat penting dalam berbahasa dan berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu diadakannya mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah sebagai sumber belajar dan pengetahuan kita sebagai rakyat Indonesia dalam berbahasa antar orang Indonesia. Dan juga adanya norma kesopanan yang menjadi patokan dan pengetahuan untuk berbahasa yang baik dan santun.
4. Ilmu
   Ilmu dalam penggunaan bahasa ini harus mulai diajarkan dan juga didapatkan melalui berbagai lingkungan sejak dini. Lingkungan tersebut antara lain yakni lingkungan sekolah(melalui guru), lingkungan keluarga(melalui orang tua), dan lingkungan masyarakat(melalui tokoh dan warga masyarakat).
5. Teknologi
   Di era digital modern seperti sekarang ini, teknologi juga dapat berpengaruh dalam penggunaan bahasa melalui role model dalam sosial media yaitu influencer atau orang-orang yang memiliki power, massa, maupun karyanya dalam sosial media mereka yang mampu mempengaruhi pemikiran, gaya hidup,dll yang nantinya juga berpengaruh kepada kebiasaan dan karakter individu mengenai penggunaan bahasa atau tutur kata yang diucapkan oleh sang influencer tersebut. Jadi, seringnya kita sebagai orang modern yang sering menggunakan sosial media juga mempengaruhi tutur kata secara tidak langsung dari akun-akun sosial media yang kita ikuti maupun tidak sengaja muncul di beranda.
6. Norma
   Penggunaan bahasa yang baik dan santun ini sebenarnya didasarkan pada bermacam norma yang berlaku di dalam masyarakat. Norma-norma tersebut yakni antara lain bisa berupa norma agama, norma kesopanan, norma hukum, norma sosial,dll.
7. Lembaga
   Pendidikan dalam penggunaan bahasa yang baik dan santun harusnya dijalankan diberbagai lembaga agar mulai menjadi budaya kita serta dapat mencegah penggunaan bahasa kasar yang berlebihan. Lembaga tersebut yakni bisa dalam lingkungan sekolah(melalui guru), lingkungan keluarga(melalui orang tua), dan lingkungan masyarakat(melalui tokoh dan warga masyarakat).
8. Seni
   Seni pada dasarnya ialah suatu hasil ciptaan manusia yang mengandung unsur keindahan didalamnya. Dengan dilaksanakannya pendidikan berbahasa dan penanaman pendidikan karakter yang baik, maka nantinya dalam pelaksanaan kesehariannya manusia dapat menciptakan suatu seni yang bisa diciptakan melalui tutur kata yang baik.
9. Bahasa
   Untuk dapat mencapai tujuan dari penanaman pendidikan karakter itu sendiri harus diwujudkan dalam interaksi yang menggunakan bahasa yang baik dan sopan tentunya, sehingga output yang dihasilkan juga memiliki bahasa atau tutur kata yang baik dan sopan nantinya.
10. Lambang
   Keberhasilan dilaksanakannya pendidikan berbahasa dan penanaman pendidikan karakter nantinya akan menciptakan output yang memiliki lambang/simbol yang juga memiliki ciri, sehingga dapat dikenali dalam masyarakat bahwa mana saja yang merupakan output yang berhasil dari proses pendidikan itu sendiri. Jadi orang yang bertutur kata atau menggunakan bahasa yang baik dan santun itu merupakan ciri dan merupakan output dari berhasilnya pendidikan berbahasa dan penanaman pendidikan karakter.

Penggunaan bahasa yang kasar menurut Konsep Sosiokultural dalam Pendidikan
- Zona Proximal Development(ZPD)
   merupakan suatu kemampuan dalam pemecahan masalah secara mandiri dibawah pimpinan orang dewasa maupun melalui kerjasama dengan teman sebaya yang lebih berketerampilan. ZPD ini berbeda antara tiap individu. Menurut Vygotsky, ZPD merupakan jarak antara peringkat perkembangan sebenarnya semasa ditentukan oleh “problem-solving”yang perlu dilakukan secara sendirian. ZPD berlaku memgikuti tahap individu dan boleh juga memasukkan sumber pengetahuannya seperti, buku, artikel, media massa, dll yang menjadi bahan rujukan individu.
Dalam tingkat intramental, seorang individu akan dilihat perkembangan penggunaan bahasanya dalam menyelesaikan berbagai tugas dan masalah secara mandiri. Individu juga menjadi kontrol dirinya sendiri dalam mengelola amarah maupun emosi yang mungkin diluapkan dengan penggunaan bahasa yang kasar dalam berinteraksiSedangkan dalam tingkat intermental, seorang individu akan diuji kemampuan pemecahan masalahnya dengan perlakuan sikap penggunaan bahasa melalui interaksi di dalam lingkungan sekitarnya yakni dengan teman-teman sebayanya dan juga orang dewasa yang memiliki kontrol sosial terhadapnya untuk membimbing mereka mengenai penggunaan bahasa yang baik dan santun. Jadi dalam ZPD ini melihat seberapa jauh pertumbuhan kognitif dan pengetahuan pelajar tersebut dalam menerapkan pengetahuan yang diperolehnya.


Gambar terkait

Kasus dan Tantangan Penggunaan Bahasa Kasar
   Di zaman yang sudah modern yang juga serba digital sekarang ini sudah saatnya bagi kita untuk membudayakan sopan dan santun berbahasa, baik di media massa, elektronik(sosial media) maupun dalam interaksi kehidupan sehari-hari. Dengan adanya sosial media sekarang ini menjadikan tantangan dalam mengatasi penggunaan bahasa yang kasar ini menjadi semakin luas masalahnya. Karena kebanyakan pelajar saat ini juga turut menggunakan internet dan sosial media baik sebagai sumber pengetahuan, hiburan, dll. Dalam dunia internet dan sosial media ini pelajar akan menemui tokoh di dalamnya juga yang bisa dijadikan role model (biasa disebut influencer seperti selebgram, youtuber, konten kreator, dll.) untuk mereka tiru dalam berbagai hal, termasuk cara penggunaan bahasanya di konten internetnya.
   Tingkah laku role model atau influencer inilah yang menjadi patokan bagi kebanyakan para remaja saat ini yang bisa mereka tiru. Oleh karena itu, kita sebagai pengguna internet harus lebih bijak dalam membedakan mana yang baik ditiru di kehidupan nyata dan yang sekedar hiburan. Namun alangkah lebih baiknya jika kita memilah dan memilih influencer yang memang baik pribadi dan kontennya serta menjauhi influencer yang kurang baik pribadi maupun konten-kontennya. Bukankah alamgkah lebih baik mengambil manfaat yang baik daripada sesuatu yang tidak baik demi perbaikan kualitas anak bangsa ini. Kemungkinan buruknya jika penggunaan bahasa yang kasar ini dibiarkan kebudayaan, berkembang dan meluas dalam masyarakat akan menimbulkan perilaku yang buruk pada orang lain, menyepelekan orang lain, hilangnya sopan santun dan hilangnya rasa kehormatan dalam tiap berkomunikasi antarpersonal.


Sumber foto : 

Upaya Pendidikan dalam Menanggulangi Penggunaan Bahasa Kasar
   Dalam lingkungan pendidikan, guru harus menjalankan perannya dengan baik dan profesional. Peran guru dalam proses pendidikan di lingkungan sekolah yaitu guru harus bisa memberikan contoh berbahasa yang baik dan santun dalam proses pembelajaran maupun komunikasi di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat mencontoh peran guru tersebut dan siswa akan merasa canggung pada saat berbahasa kurang santun maupun kasar di lingkungan sekolah. Karena dalam pepatah bahasa Jawa, guru itu harus mempunyai sifat ataupun ciri yaitu dapat digugu lan ditiru.
Selain itu dalam penanaman pendidikan karakter pada siswa juga harus dikuatkan dalam ketaatan siswa mengenai pelaksanaan norma etika atau kesopanan. Sehingga penggunaan bahasa yang baik dan santun dapat terlaksana dengan maksimal sebagai suatu kebiasaan dan menyatu dalam diri siswa tersebut serta dapat melaksanakannya dengan baik terhadap semua orang baik yang muda maupun yang tua.
   Mungkin dalam satu contoh yang terjadi yaitu sewaktu saya SMA. Waktu itu saya saat belajar di SMAN 1 Ngaglik Sleman memiliki budaya untuk mengenakan baju adat DIY dan menggunakan bahasa daerah (bahasa jawa) pada hari kamis pahing  dalam satu hari tiap satu bulan. Siswa dituntut untuk berinteraksi menggunakan bahasa jawa di lingkungan sekolah, bukan hanya siswa saja namun guru juga dituntut menggunakan bahasa jawa dalam proses mengajar dan juga berkomunikasi di lingkungan sekolah.
   Dalam kegiatan ini siswa diharapkan dapat terbiasa menggunakan bahasa santun dalam proses komunikasi dengan teman sebaya maupun dengan guru, dan akan merasa canggung pada saat berbahasa kurang santun apalagi pada gurunya. Dalam pelaksanaannya sendiri juga melatih untuk bahasa jawanya agar lebih lancar lagi, terlebih dalam bahasa jawa itu sendiri dibagi-bagi ada bahasa ngoko, krama, krama inggil dalam setiap penggunaannya terhadap masing-masing lawan bicaranya. Hal tersebut merupakan satu contoh dalam menanggulangi atau meminimalisir penggunaan bahasa kasar pada kalangan pelajar di sekolah.


Sumber Referensi :
- Yunita, Dwi Aryani. 2014. Program Bimbingan Pribadi Sosial Untuk Mengembangkan Perilaku Etis Berbahasa Santun. repository.upi.edu
http://repository.upi.edu/11134/4/S_PPB_0906305_Chapter%201.pdf (diakses pada Minggu, 17 November 2019 pukul 21.05 WIB)
- Calista Handaru. 2013. Teori Sosio-kultural.
https://www.academia.edu/7558238/Teori_Sosio-Kultural (diakses pada Senin, 18 November 2019 pukul 20.35 WIB)

Jumat, 15 Maret 2019

Ketahanan Bangsa Indonesia dalam Aspek Budaya

   

Sumber gambar : https://wallpapercave.com/wp/wp2134661.jpg



   Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bangsa yang terkenal sebagai negara dan bangsa yang luhur. Di dalam bangsa Indonesia juga memiliki keragaman budaya yang tersebar di pelosok-pelosok nusantara. Yang diantaranya ada mulai dari kesenian, baju adat, upacara adat, rumah adat, lagu daerah, hingga makanan dari tiap-tiap daerah di Indonesia yang melekat mewarnai keragaman bangsa Indonesia ini.  Menurut Kluckhohn dalam sebuah karyanya yang berjudul “Universal Categories of Culture” telah menguraikan beberapa unsur kebudayaan dari berbagai pendapat para sarjana ke dalam tujuh unsur kebudayaan yang kemudian dianggap sebagai universal cultural yaitu ; peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transport dan sebagainya), mata pencaharian hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa (lisan maupun tertulis), kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya), sistem pengetahuan, dan juga sistem kepercayaan (religi).

   Tidak heran jika begitu banyaknya budaya yang kita miliki dari berbagai daerah, justru membuat kita tidak mengetahui apa saja budaya yang ada Indonesia yang sangat luas ini. Bahkan kita sendiri saja sebagai generasi muda saat ini terkadang lupa akan budaya daerah kita sendiri. Ironis memang, jika kita sebagai orang Indonesia tetapi tak tahu ciri khas bangsanya sendiri. Lihatlah diri kita masing-masing, sebetulnya kita jugalah yang tidak mau melestarikan dan tidak mau tahu akan keluhuran budaya sendiri. Ketertarikan budaya yang semakin meluntur juga sangat nampak pada diri generasi muda di zaman modern saat ini. Salah satunya penyebabnya yaitu karena globalisasi.

   Dari dampak globalisasi ini tentunya juga akan berpengaruh pada dinamika budaya dan juga keseharian masyarakat di setiap negara. Di Indonesia, hal ini bisa dirasakan dan sangat terlihat nampaknya. Begitu bebasnya bermacam budaya yang masuk dari berbagai arus kehidupan. Pribadi dan sifat keramah-tamahan dari masyarakat juga sangat mendukung masuknya berbagai budaya tersebut. Ditambah lagi generasi muda kita yang terkesan mudah bosan dengan budaya yang mereka anggap kuno. Tetapi, dengan masuknya budaya dari luar justru kerap berimbas buruk bagi bangsa ini. Misalnya budaya berpakaian, gaya hidup keseharian (life style), segi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maupun juga adat-istiadat. Semua itu nyatanya berdampak buruk dan dengan mudah dapat menggeser budaya asli Indonesia.

   Sebenarnya kita itu belum siap menerima era globalisasi. Gaya hidup kita semakin menjurus ke arah barat yang semakin individual dan liberal. Budaya gotong-royong di masyarakat pun juga semakin memudar. Dari segi iptek, sebagian besar juga berdampak buruk bagi kita. Yakni penyalahgunaan teknologi kerap kali terjadi. Kemudian, belum ada filterisasi budaya yang masuk. Begitu mudah budaya masuk tanpa ada penyaringan kesesuaian dengan budaya asli kita. Akibatnya kita seperti  seakan berjalan mengikuti tuntutan perkembangan zaman modern. Tetapi sayangnya dengan mengikuti perkembangan tersebut, budaya luhur yang dulu melekat dalam diri, perlahan semakin menghilang. Parahnya, budaya daerah yang ada dan kita junjung tinggi justru semakin kita abaikan. Oleh karena itu, diperlukan adanya regulasi dari pemerintahan, maupun kesadaran dari tiap warga negara Indonesia terkait rasa nasionalismenya menyangkut ketahanan bangsa Indonesia dalam aspek budaya ini kedepannya.

   Ketahanan dibidang budaya diartikan sebagai kondisi dinamik yang berisi tentang keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan baik yang datang dari dalam maupun luar. Yang langsung maupun tidak langsung dapat membahayakan kelangsungan kehidupan sosial dan juga budaya bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD1945.

   Masyarakat adalah sekumpulan dari individu manusia yang secara relatif mandiri hidup bersama dengan waktu cukup lama, mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, serta melakukan sebagian besar kegiatannya didalam kelompok tersebut. Masyarakat yang terdiri dari kumpulan individu manusia tersebut juga pasti akan tumbuh berkembang dengan budaya di daerahnya yang bisa saja ada dan datang dari cara-cara mereka atau kebiasaan mereka sehari-hari. Sehingga terciptalah sebuah budaya yang mencirikan masyarakat tersebut.

   Manusia mengembangkan kebudayaan tidak lain sebagai upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya menghadapi berbagai tantangan yang muncul dari lingkungannya untuk kemudian mewujudkan dan meneruskan kehidupan yang lebih baik. Karena itulah dapat dikatakan bahwa kebudayaan merupakan wujud tanggapan aktif manusia terhadap tantangan yang datang dari lingkungannya sendiri.

   Indonesia yang terkenal dengan multikultural dan pluralismenya mempunyai berbagai lapisan sosial. Lapisan sosial yang berbeda membawa perbedaan perilaku kebudayaan yang diwujudkan dalam keadaan tertentu seperti bahasa yang digunakan, kebiasaan berpakaian, kebiasaan konsumsi makanan dan sebagainya. Semua itu menambah keanekaragaman tampilan budaya masyarakat Indonesia. Kebudayaan baru yang lebih penting daripada kebudayaan-kebudayaan lain dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa adalah kebudayaan nasional atau kebudayaan Indonesia. Kebudayaan ini tidak sama dengan kebudayaan daerah tertentu tidak sama artinya dengan penjumlahan budaya-budaya dari tiap daerah di kepulauan Indonesia.

   Penjelasan dalam UUD1945 yang membahas mengenai kebudayaan bangsa dirumuskan sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Perkataan puncak-puncak kebudayaan itu memiliki makna yaitu kebudayaan yang diterima dan dijunjung tinggi oleh sebagian besar suku-suku bangsa di Indonesia dan memiliki persebaran di sebagian besar wilayah Indonesia. Kekayaan budaya Indonesia adalah sebuah anugerah warisan besar yang harus dijaga dan dilestarikan. Karena kebudayaan bangsa merupakan bagian dari wawasan serta warisan dari para leluhur nusantara. Dengan alasan tersebut, melindungi kebudayaan nasional dan mencegah terjadinya klaim budaya adalah hak dan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. Pengklaiman budaya oleh bangsa asing menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Dari peristiwa seperti itu pada beberapa tahun kebelakang kemarinlah pertahanan nasional kita ini diuji dan juga harus mampu mewujudkan tujuannya untuk menjaga, mempertahankan, dan menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

   Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata seharusnya sudah membuat database yang berisi tentang semua jenis macam kebudayaan yang berasal dari Indonesia disertai dengan daerah asalnya. Kegiatan ini tentunya harus didahului dengan identifikasi atas kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Setelah berhasil didentifikasi tanpa ada yang terlewat maka database ini akan menjadi sangat bermanfaat, selain untuk mempermudah rakyat dalam mencari informasi dan melihat kebudayaan yang kita miliki, database ini kemudian juga akan bermanfaat sebagai alat bukti ketika ada pengklaiman budaya. Di era globalisasi dan modern sekarang ini, Konsep conserve and exhibition (lestarikan dan pamerkan) di Indonesia selama ini hanya berlaku dan dilaksanakan untuk orang - orang tua, setidaknya juga harus ditanamkan kepada para pemuda sehingga penyakit lemah budaya yang ada pada jiwa - jiwa muda bangsa indonesia yang merasa lebih keren jika mendengarkan dan mempelajari musik modern daripada musik gamelan bisa disembuhkan dan dapat tersadarkan akan keindahan budaya lokal dan rasa tanggung jawab sebagai generasi penerus budaya bangsa. Selain itu dengan conserve and exhibition yang ketat ini akan semakin menunjukkan dan memberikan isyarat kepada dunia internasional bahwa kebudayaan ini adalah milik kita, dan jangan coba - coba klaim kebudayaan kami.


    Berkaca dari kasus yang menyangkut salah satu kesenian dari Jawa Timur yaitu Reog Ponorogo sempat menjadi perdebatan kepemilikan dengan pihak Malaysia, yang menghebohkan waktu itu dan berdampak pada terjadinya berbagai demonstrasi di Indonesia. Salah satunya yaitu demonstrasi yang dilakukan di depan kedubes malaysia oleh para “warok” dan para budayawan reog ponorogo yang tidak terima dengan pengklaiman Malaysia atas Reog Ponorogo dengan nama Barongan. Kasus ini cukup menarik perhatian dari berbagai pihak dan masyarakat, khususnya dari pemerintah kabupaten Ponorogo yang tidak terima dengan pengklaiman tersebut. Karena pemerintah kabupaten Ponorogo sebenarnya telah mendaftarkan tarian reog ponorogo sebagai hak cipta milik Kabupaten Ponorogo yang tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan disaksikan langsung oleh Menteri Hukum dan HAM RI. Konon awal mulanya isu ini, kesenian Reog Ponorogo dibawa oleh TKI yang bekerja di Malaysia yang sering mengadakan pertunjukan tarian Reog Ponorogo untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia tetapi aparat polisi Malaysia memberikan syarat jika reog tetap ingin dimainkan maka namanya harus diubah menjadi “Singa Barongan UMNO”. Ini seharusnya menjadi bahan evaluasi, bahwa dunia internasional belum mengetahui kepemilikan budaya Indonesia. Hal ini terjadi juga karena  kurangnya sarana untuk menampilkan budaya asli Indonesia kepada masyarakat dunia.

   Jadi, untuk mendukung sebuah ketahanan nasional kita harus bisa menjaga budaya itu dan melestarikan budaya itu sendiri agar tidak punah dan di ambil negara lain. Hasil karya seorang seniman tak akan hilang tetapi hanya terabaikan, sebagai generasi muda kita harus menghargai Sosial ,Kesenian, dan Budaya yang ada di Indonesia. Ditengah era globalisasi dan serba modern seperti sekarang ini, sebagai seorang mahasiswa kita sebenarnya dapat melakukan langkah kecil dengan dapat memanfaatkan teknologi informasi yang semakin berkembang pesat ini untuk mempertahankan budaya kita. Perkembangan teknologi informasi seperti internet, handphone, radio maupun televisi, merupakan sarana yang paling efektif dalam upaya pengenalan seluruh budaya Indonesia pada masyarakat luas khususnya pelajar dan juga anak-anak. Atau dengan secara langsung melestarikan budaya Indonesia dengan mempelajari dan menampilkannya di khalayak publik baik dari seni tari, musik, pakaian,dll. Itu penting agar dapat berfungsi lebih luas tidak hanya sekadar warisan ataupun adat istiadat masyarakat Indonesia yang dirayakan ataupun dilaksanakan pada saat peringatan hari-hari nasional saja. Budaya nasional harus menjadi bagian dari aset Bangsa Indonesia yang harusnya dapat mendatangkan pendapatan bagi masyarakat dan negara. Tentunya perlu ada suatu kesadaran secara nasional dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia pada semua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.



DAFTAR PUSTAKA
1. Setiawan, Rian. 2016. Ketahanan Nasional di Bidang Sosial Budaya. Diambil dari : http://ryansetiawan96.blogspot.com/2016/10/ketahanan-nasional-di-bidang-sosial.html (diakses pada Minggu, 10 Maret 2019 pukul 23.01 WIB)
2. Mulyani, Eva. 2016. PENGARUH KLAIM BUDAYA INDONESIA OLEH MALAYSIA TERHADAP KEBIJAKAN KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA. Diambil dari: http://repository.unpas.ac.id/id/eprint/13435 (diakses pada Minggu, 10 Maret 2019 pukul 23.35 WIB)
3. Kaelan. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta : Paradigma.

Masihkah Kalian Menganggap Game Online Buruk?


Menjadi Cabang Olahraga di Skala Dunia , Masihkah Menganggap Game Online Buruk?



 (Sumber Gambar : https://gbk.id/wp-content/uploads/2019/02/xIMG_7331-1080x675.jpg)

 
   Paradigma yang sebagian besar buruk terhadap game masih mengakar pada kalangan masyarakat Indonesia, terutama pada game online. Bagi sebagian besar remaja, mungkin bahkan juga menjadikan bermain game online ini sebagai sebuah hobinya. Game online di cap menjadi sebuah penyakit mental bagi anak. Sebenarnya tidak seutuhnya menjadi sebuah penyakit, Hal tersebut tergantung bagaimana sang pemain atau gamers tersebut dalam melakukannya serta peran orang tua yang mengarahkan dengan benar bagaimana adab bermain game online secara benar. Misalkan mengatur waktu untuk bermain game online dengan tepat dan benar agar anak tidak kecanduan.  Selama ini artikel-artikel, media, yang menyebutkan game online itu hanya ditampilkan satu sisi saja. Sehingga menganggap game online selalu berdampak buruk. Padahal  menurut saya, nilai-nilai kebaikan game online itu ada secara implisit dan memberi manfaat di kehidupan nyata.

   Game online masih memiliki nilai yang baik jika di pandang dari prespektif yang berbeda. Bahkan semakin populernya game online saat ini game online menjadi salah satu olahraga yang disebut dengan E-Sport. E-Sport atau Electronic Sport merupakan cabang olahraga yang mengandalkan strategi dan otak atau lebih disebut sebagai Mind Sports(olahraga pikiran). Bermain game online tak semudah yang dibayangkan. Game online memerlukan banyak perangkat untuk memaikannya. Monitor, keyboard,mouse, aliran listrik , koneksi internet yang memadai belum lagi seorang gamer harus tahu karakter game,spesifikasi game tersebut , timing, konsentrasi, skill serta strategi yang kuat untuk mengahadapi lawan. Tidak hanya itu kekompakan tim juga diperlukan dalam memainkan. Bermain game online yang disebutkan dalam e-sport yang dimaksudkan adalah bermain game yang mengandung nilai kompetitif dan juga sportif, selayaknya olahraga yang lain. Belakangan ini di wilayah Asia dan juga khususnya di Indonesia dipertandingkan cabang E-Sport sebagai cabang eksibisi dalam Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Indonesia. Walaupun Cabang E-Sport masih diselenggarakan sebagai cabang eksibisi, yang dipertandingkan namun tidak ada atau tidak dihitung perolehan medali, Namun menurut saya, ini merupakan sebuah kemajuan seiring dengan perkembangan teknologi dan juga bagi perkembangan game online itu sendiri.

   Di Indonesia sendiri, E-Sport sudah ada sejak tahun 2014. dimana E-sport ada dibawah naungan FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) Kemenpora. Asosiasi resmi E-Sports Indonesia dinamakan IeSPA (Indonesian e-Sports Association). Organisasi ini juga yang mengatur dan merekomendasikan beberapa game di event Asian Games 2018 di Indonesia beberapa waktu lalu. IeSPA sendiri telah diakui oleh IeSF asosiasi E-Sports dari luar negeri. Banyaknya peminat esport, menjadikan pemerintah Indonesia melalui Kemenpora juga turut memberi dukungan pada event-event kompetisi game online di Indonesia belakangan ini. Selain karena hobi dan minat dalam E-Sport ini mereka juga pasti mempunyai beberapa tujuan jika terjun dalam dunia e-sport ini, 

   Berikut ini ialah alasan dan tujuan orang bermain game online :
1. Dapat Bermain Dengan Banyak Pemain
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan memainkan permainan game online, anda dapat bermain bersama pemain lain dari seluruh dunia. Dengan game online, anda dapat berinteraksi dan bermain bersama pemain-pemain yang berasal dari kota lain, bahkan dari Negara lain.

2. Mendapatkan Uang
Alasan paling seru dari Mengapa Orang Banyak Menyukai Game Online adalah Bisa mendapatkan Uang. Memainkan game online bukan sekedar hanya dapat dimainkan bersama pemain lain, tapi juga menghasilkan uang. Dengan anda jago dalam bermain, memungkinkan anda bakal direkrut oleh tim profesional dan mendapatkan uang dari membela tim tersebut. Selain jadi pemain, di dalam esport ini juga ada beberapa pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, seperti menjadi komentator pertandingan (shoutcaster), pembuat konten di media sosial (content creator), pelatih tim esport (coach), dll.

3. Menjadi Hiburan yang Mudah dan Menarik
Dengan bermain game online, anda bisa menjadikan ini sebagai alternative hiburan yang mudah dan menarik. Game online sekarang juga telah tersedia pada smartphone yang mudah diakses dari mana saja. Anda dapat memainkan game online dari smartphone anda, kapan pun dan dimana pun selagi memiliki koneksi internet. Saat ini di Indonesia juga sudah banyak event-event turnamen esport yang menjadikannya sebagai saluran hiburan baru.

   Dari beberapa alasan dan juga tujuan tersebut, menjadikan sebagian orang juga menganggap bahwa bermain game adalah sebuah hobi bagi mereka. Namun, terlepas dari alasan tadi, banyak dampak positif dan negatif yang akan dapat dalam bermain game online. 
Berikut adalah beberapa dampak positif game online :

1. Melatih untuk menyusun strategi
Umumnya permainan ini dilengkapi pernak-pernik senjata, amunisi, karakter dan peta permainan yang berbeda. Untuk menyelesaikan level atau mengalahkan musuh secara efisien diperlukan strategi. Permainan game online akan melatih pemainnya untuk dapat memenangkan permainan dengan cepat, dan efisien

2. Meningkatkan konsentrasi
Kemampuan konsentrasi pemain game online akan meningkat karena mereka harus menyelesaikan beberapa tugas, mecari celah yang mungkin bisa dilewati dan memonitor jalannya permainan. Semakin sulit sebuah game maka semakin diperlukan tingkat konsentrasi yang tinggi.

3. Meningkatkan koordinasi tangan dan mata.
Penelitian yang dilakukan di Manchester University dan Central Lanchashire University menyatakan bahwa orang yang bermain game 18 jam seminggu atau sekitar dua setengah jam perhari dapat meningkatkan koordinasi antara mata dan tangan. Hal ini juga tentunya akan mendukung koordinasi tangan dan mata dalam kehidupan nyata

4. Meningkatkan Kemampuan Membaca
Psikolog dari Finland Univesity menyatakan bahwa game meningkatkan kemampuan membaca pada anak-anak. Disuguhkan desain yang memukau dan juga menarik perhatian menjadikan gamer menjadi lebih tertarik untuk membaca hal-hal seperti info, cerita, penjelasan item,dll di dalam game tersebut.

5. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing
Sebuah studi menemukan bahwa gamers mempunyai kemampuan berbahasa asing (terutama dan umumnya bahasa inggris) yang lebih baik meskipun tidak mengambil kursus pada masa sekolah maupun kuliah. Ini karena banyak alur cerita yang diceritakan dalam bahasa inggris dan kadang kala mereka mengobrol dengan pemain lain dari berbagai negara di dunia

6. Meningkatkan pengetahuan tentang Iptek
Untuk dapat menikmati permainan dengan nyaman dan kualitas gambar yang prima, seorang peman game online akan berusaha mencari informasi tentang spesifikasi komputer maupun smartphone dan koneksi internet yang dapat digunakan untuk memainkan game tersebut. Karena pengguna komputer aktif biasanya mereka juga akan belajar berbagai masalah tertentu dalam perangkat komputer maupun smartphone, seperti troubleshooting komputer dan overclocking.

7. Meningkatkan kemampuan mengetik
Kemampuan mengetik sudah pasti meningkat karena mereka menggunakan keyboard dan mouse untuk mengendalikan karakter dalam permainan. Dan juga terlatih karena untuk mengobrol lewat chat di dalam game tersebut.

Dampak Negatif Game Online :
1. Menimbulkan adiksi (Kecanduan) yang kuat
Sebagian besar game yang beredar saat ini memang didesain supaya menimbulkan kecanduan para pemainnya. semakin seseorang kecanduan pada suatu game maka pembuat game semakin diuntungkan karena peningkatan pembelian gold/tool/karakter dan sejenisnya semakin meningkat. Selain itu juga kecanduan ini memberi dampak ke kahidupan nyata mereka, mereka jadi menyepelekan hal-hal di kehidupan nyata seperti sekolah, beribadah, dll. Keuntungan materiil pada produsen game justru menghasilkan dampak yang buruk bagi kesehatan psikologis pemain game.

2. Mendorong melakukan hal-hal negatif
Walaupun jumlahnya tidak banyak tetapi cukup sering kita menemukan kasus pemain game online yang berusaha mencuri (hack) ID pemain lain dengan berbagai cara. Kemudian mengambil uang didalamnya atau melucuti perlengkapannya yang mahal-mahal. Kegiatan mencuri ID ini biasanya juga berlanjut pada pencurian akun lain seperti facebook, email dengan menggunakan keylogger, software cracking dll. Bentuk pencurian ini tidak hanya terbatas pada pencurian id dan password tetapi juga bisa menimbulkan pencurian uang – meskipun biasanya tidak banyak (dari uang SPP misalnya) dan pencurian waktu, misalnya membolos sekolah demi bermain game.

3. Berbicara kasar dan kotor
Entah ini terjadi di seluruh dunia atau hanya Indonesia. tetapi sejauh yang saya temui di berbagai komunitas game di Indonesia yang tersebar diberbagai kota. Rata-rata para pemain game online sering mengucapkan kata-kata kotor dan kasar (toxic) saat bermain, baik saat online (melalui chat maupun voice chat) maupun offline ketika bermain bersama teman-temannya.

4. Terbengkalainya kegiatan di dunia nyata
Keterikatan pada waktu penyelesaian tugas di game dan rasa asik memainkannya seringkali membuat berbagai kegiatan terbengkalai. Waktu beribadah, tugas sekolah, tugas kuliah ataupun perkerjaan menjadi terbengkalai karena bermain game atau memikirkannya. Apalagi banyak permainan yang terus berjalan meskipun kita sudah offline.

5. Perubahan pola makan dan istirahat
Perubahan pola istirahat dan pola makan sudah jamak terjadi pada gamers karena menurunnya kontrol diri. Waktu makan menjadi tidak teratur dan mereka sering tidur pagi demi mendapat happy hour (internet murah pada malam-pagi hari). Hal ini akhirnya berdampak pada kesehatan mereka, menjadi sakit-sakitan

6. Pemborosan
Uang untuk membayar sewa komputer di warnet, membeli perangkat komputer atau smartphone yang memadai dan membeli voucher game yang kadangkala nilainya bisa mencapai jutaan rupiah. Belum lagi untuk membeli koneksi internet yang memadai, dan upgrade spesifikasi komputer maupun smartphone.

   Untuk seluruh orangtua mempunyai anak yang kecanduan bermain Game Online, dihimbau untuk diperhatikan secara baik-baik. Saya yakin semua orang tua juga tidak mau mempunyai anak-anak yang bisa saja menjadi anak yang nakal atau bandel karena kecanduan Game Online. Bimbingan orang tua memang harus diketatkan, namun lebih diketatkan pada pengawasannya, agar mereka tetap terkontrol dengan baik.

   Jadi apakah anda masih menganggap game online sebagai aktivitas yang sepele? Sebenarnya game online mirip dengan catur yang menggunakan otak dan strategi saat memainkannya. Namun pemikiran yang sempit serta teori labelling yang sudah mendarah daging, menjadikan seseorang yang awam menganggap game online merupakan aktvitas yang buruk. Adanya E-sport menambah nilai plus secara eksplisit di mata orang yang belum memahami betul bagaimana seorang gamers mencintai apa yang dicintainya. Selain itu diakuinya E-sport di indonesia menjadi wadah bagi seorang gamers yang menekuni dunia game online. E-sport sendiri bisa disimpulkan menjadi penangkal pergaulan bebas sehingga para gamer memiliki media untuk mencurahkan hobinya ditempat yang tepat.

   Perlunya wawasan yang luas bagi warga Indonesia untuk mendukung E-sport sangatlah penting. Dibutuhkan peran pemerintah untuk menggencarkan olahraga yang masih dini keberadaannya. Harapannya, Indonesia memiliki atlet-atlet yang lebih banyak dan juga berprestasi untuk cabang E-sport ini, agar Indonesia dapat berprestasi di kancah Internasional dan juga tak hanya mewadahi atlet-atlet yang kompeten dibidang olahraga tertentu saja. Regulasi pemain dan pemeliharaan sistem harus diperhatikan dalam eksekusinya. Agar E-Sport ini dapat berkembang di Indonesia dan juga agar terciptanya sistem yang baik dan juga industri di dalamnya yang menciptakan banyak lapangan kerja. Pemerintah wajib menimbangkan dan mengembangkan lebih lagi dari segala segi agar E-sport ini dapat berlangsung secara lancar tanpa mengurangi nilai-nilai moral bagi seluruh pemainnya, terutama pemain yang masih berstatus siswa ataupun dibawah umur.